RSS

In God We Trust

16 Mar

Adalah lebih baik untuk percaya pada Tuhan ketimbang politisi. Slogan “In God We Trust yang ada pada uang Amerika Serikat (AS) adalah sebuah ‘pesan komunikasi’ yang mendalam dan penting.

Artikel ini aslinya dapat dilihat pada “Inilah.Com”, 15 Maret 2012.

Sebuah pesan yang dibaca semua rakyat, kaya atau pun miskin, bahkan juga oleh penduduk negara lain di dunia.

Belakangan ini pesan itu menghentak kita di Indonesia. Di saat ‘trust’ (kepercayaan) kepada politisi di Indonesia demikian merosotnya sekarang ini, masyarakat mau tidak mau mesti menoleh ke tempat lain.

Kepada suatu zat, atau satu-satunya ‘pihak’, yang bisa dipercaya dan paling adil. Yang pengadilan-Nya tiada bisa disuap, dan semua aparat-Nya anti korupsi, kolusi dan nepotisme.

In God We Trust

Tulisan "In God We Trust" pada coin Amerika (Photo credit: kevin dooley)

Sejatinya, menurunnya ‘trust’ kepada politisi dan pemerintah bukan hanya terjadi di Indonesia. Belum lama ini sebuah hasil penelitian menunjukkan bahwa ‘trust’ di lebih dari 50 pemerintahan di dunia juga merosot.

Bukan hanya pemerintahan malah. Menurut konsultan Public Relations, Edelman – yang hasil polling-nya baru-baru ini dikutip majalah The Economist versi online — merosotnya ‘trust’ juga terjadi pada banyak responden terhadap tiga institusi lain, yakni bisnis, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan media yang ada di di dunia. Tetapi memang yang paling mencolok adalah merosotnya ‘trust’ di kalangan pemimpin politik.

Pada tahun 2011 di antara 50-an negara yang diteliti itu, laporan ‘barometer trust’ yang dilansir Edelman itu menemukan bahwa 52 % responden percaya (punya ‘trust’) pada pemerintahnya. Tahun ini, ‘trust’ kepada para pemimpin politik itu turun menjadi hanya 43 %.

Sayang laporan itu tidak menyebutkan apakah Indonesia termasuk yang diteliti. Yang jelas Brazil, salah satu negara yang mirip Indonesia, mengalami penurunan paling mencolok: angka ‘trust’ di negeri sepak bola itu meluncur dari 80 prosen pada tahun 2011 menjadi 51 % pada tahun ini. Hal ini, katanya, karena banyaknya skandal korupsi di Brazil.

Sebagaimana tahun lalu, polling Edelman itu dilakukan terhadap ‘informed people’ masyarakat yang berwawasan atau pengetahuan cukup, seperti professional dan kalangan yang berpendidikan.

Nazaruddin: contoh seorang 'politisi' masa kini.

Yang menarik, 46 % responden mengatakan bahwa mereka “tidak percaya sama sekali pada pemimpin pemerintahan untuk menyampaikan kebenaran.”

Sementara itu, pimpinan bisnis masih lebih baik, karena hanya 27 % responden mengatakan mereka tidak percaya bahwa para pimpinan usaha itu mengatakan yang sebenarnya.

Kita mencatat bahwa di antara yang bisa mengurangi ‘trust’ adalah politik pencitraan. Alih-alih dari membangun reputasi, tokoh politik seringkali sibuk mengurus citra dirinya.

Padahal jelas beda antara citra, yang merupakan hasil polesan ‘kosmetik’ sementara dan ‘reputasi’, yang harus dibangun melalui penerapan perilaku yang baik, etis dan bermoral secara terus menerus.

In God We Trust’ memang bukan pesan pencitraan. Ia bukan social marketing atau Public Relations pemerintah AS. Ia sebuah pengingat bagi warga AS, dan mungkin juga warga dunia, bahwa kapan pun di dunia ini jangan terlalu percaya pada uang, pada bisnis, apalagi politisi. Hanya Tuhan saja yang bisa dipercaya penuh.

Frasa ‘In God We Trust’ pertama kali muncul pada uang logam (coin) Amerika Serikat (AS) pada 1864, tapi baru pada 1965 konggres negeri itu meresmikannya sebagai motto resmi pada mata uang AS.

Bagi sebagian orang, mungkin sulit percaya betapa masyarakat Amerika yang sangat modern mempertahankan slogan itu. Namun, hasil polling Gallup pada tahun 2003 menunjukkan bahwa 90 prosen warga Amerika masih menyetujui agar pesan itu tetap dipakai pada mata uang mereka.

Menarik jadinya. Mengapakah rakyat di negeri sekuler seperti AS itu merasa perlu menegaskan sebuah hal yang bersifat ukhrawi distempelkan secara serius dalam ‘salah satu materi’ paling bersifat duniawi?

Apakah sedemikian penting hal itu, sehingga setiap kali merogoh kantong orang perlu diingatkan ada Tuhan di koin atau lembaran uang itu? Seolah ia mengajak manusia untuk melihat ke mana mesti mencari kebenaran, kekuatan, dan dukungan.

Slogan itu tidak mengatakan, ‘in people do we ‘trust’’ (kita percaya pada masyarakat) atau ‘in politics do we ‘trust’ (kita percaya pada politik). Rupanya karena orang tahu bahwa manusia, apalagi mereka yang terlibat dalam dunia politik tidak selalu bisa dipercaya. Kalau pun ada, barangkali jumlahnya sedikit saja.

Pasalnya, tadi itu, banyak pencitraan direkayasa orang politik. Pada setiap peristiwa politik seperti pemilihan umum, setelah kita menaruh kepercayaan (‘trust’) pada tokoh tertentu, sambil terus berdoa agar yang kita pilih itu adalah orang yang benar-benar bisa dipercaya, ternyata kita sering dikecewakan.

Janji-janji yang diteriakkan saat kampanye lebih banyak dilanggar; kata-kata manis saat itu menguap begitu saja, sehingga seolah hanya ‘angin surga’ belaka.

Hal itulah yang kemudian menurunkan kepercayaan masyarakat kepada pemimpin. Maka, terlepas dari siapa pemimpin yang ada, atau apapun yang terjadi pada bangsa kita, setelah semua usaha perbaikan kita lakukan, selayaknya kita hanya bisa berdoa agar Tuhan terus melimpahkan rahmat-Nya dan melindungi mereka yang bisa kita percaya.

Sebab siapa pun yang kita pilih, sejatinya mereka itu manusia biasa dengan kelemahan moral, dan mudah tergoda, khususnya oleh uang. Faktanya adalah, terlepas dari ‘siapa’ yang kita contreng di bilik suara, kita tidak pernah bisa yakin benar apa yang kelak akan terjadi.

Pedoman di uang itu juga tidak mengatakan, ‘in money do we ‘trust’ (kita percaya pada uang). Jelas karena uang tak bisa dipercaya. Ia memang berguna, dan penting sebagai sarana hidup dan kehidupan, tetapi sudah banyak yang mengingatkan bahwa tidak semua bisa dibeli dengan uang.

Juga dalam ‘politik uang’ (money politics) – seperti saat tim sukses pemenangan ketua partai membeli suara perwakilan, misalnya – kepercayaan kepada sang ketua pun mungkin tidak selamanya bisa dipertahankan, kecuali bila nantinya ia bisa membuktikan dirinya benar-benar bersih sehingga tidak perlu digantung di Monas…

*) Konsultan dan dosen Komunikasi di Universitas Paramadina. Twitter: @sbasria. [mor]

Advertisements
 

Tags: ,

2 responses to “In God We Trust

  1. -Jeany Chen- 이준나

    20/03/2012 at 4:34 pm

    Kalau di Amerika, In God, We Trust… kalau di Indonesia, In God, We Ask…
    Jika melihat dalam sejarahnya, the original American motto tadinya adalah “E Pluribus Unum” (Latin) yaitu “One from many” atau “One from many parts.” Hal ini mengacu pada negara federal tunggal dari kelompok unit politik individu yang awalnya koloni dan sekarang negara. Barulah tahun 1864, “In God We Trust” kemudian muncul dan muncul pada newly designed two-cent coin. Permasalahannya, apakah motto tersebut konstitusional? Ya, jika melihat dari sudut pandang hukum. Motto tersebut seolah mengingatkan bahwa Amerika di sisi Allah.

    Lalu bagaimana dengan Indonesia? Saya setuju dengan pernyataan diatas bahwa “Pedoman di uang itu juga tidak mengatakan, ‘in money do we ‘trust’ (kita percaya pada uang)”, tapi kata “God” ditulis diatas uang, bukankah sama saja dengan melihat uang, maka harus mengingat Tuhan?
    Saya rasa jika uang di Indonesia juga harus tercetak motto seperti itu, maka “In God, We ask” adalah yang paling “pas”. Jika di Amerika, “melihat uang maka bisa teringat Tuhan”, maka di Indonesia, “melihat Tuhan karena teringat uang”. Harta dan kekayaan adalah yang paling utama dikejar. Saya tidak tahu apakah para koruptor di negeri tercinta kita ini banyak yang taat beribadah dan berdoa. Namun melihat dari banyaknya mavia hukum yang berkeliaran di Indonesia, rasanya sulit untuk percaya bahwa mereka benar beribadah dan percaya (trust) kepada Tuhan. Kasarnya, jika Tuhan bisa langsung memberi mereka uang, maka mereka tidak perlu capek dalam berlomba-lomba mengejar uang dengan cara yang tidak sepantasnya. Jika Tuhan bisa langsung memberikan hujan uang ketika ada yang berkata, “God, can we ask for money?”. Maka seharusnya KKN di Indonesia dapat menurun secara drastis. Sayangnya, kita tahu bahwa hal ini tidak mungkin. Jadi inilah saatnya rakyat yang jujur dan benar percaya Tuhan berkata, “In God, We ask…. about the future of Indonesia…”

     
    • Syafiq Basri

      21/03/2012 at 3:11 am

      Terima kasih Jeany,
      Komentar yang bagus sekali dan menarik. Anda benar, kita jadi ingin bertanya kepada Tuhan (dan berdoa), mengenai masa depan Indonesia. Semoga saja makin hari makin banyak kebaikan dilimpahkan Tuhan kepada bangsa kita — asalkan setiap orang berusaha meraih kebaikan itu, dan turut menyebarkannya kepada sesama.

       

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: