RSS

Nazaruddin dan Dusta

10 Mar

Kritik terhadap 'perwakilan' rakyat dan kaitannya dengan pajak.

Berita Nazaruddin mendominasi media di negeri kita. Esensi kasus Nazaruddin, sebagaimana banyak kasus lainnya adalah soal kejujuran. Benar atau berdustakah mereka itu?

Soal jujur versus bohong merupakan fenomena penting dalam komunikasi – baik itu komunikasi antarindividu atau pun komunikasi lewat media massa. Buat seorang tokoh publik seperti anggota DPR, pejabat partai atau pemerintah, kebohongan yang terbongkar akan merusak kepercayaan (trust) orang terhadap sang individu dan organisasinya.

Tulisan aslinya dimuat di Inilah.Com, Kamis, 1 September 2011.

Bila yang ketahuan berdusta adalah public figure, maka tuduhannya bisa merepotkan, sebab mereka bisa dituduh melakukan ‘kebohongan publik’ yang dianggap lebih berat ’dosanya’ ketimbang lainnya. Pasalnya, mereka membohongi masyarakat luas yang jumlahnya bisa mencapai puluhan juta pendengar, pembaca atau pemirsa.

Yang menjadi masalah dengan dusta adalah bahwa mereka yang berbohong itu mesti ‘pandai-pandai’ mengingat apa yang mereka katakan pada satu saat untuk tetap diulang secara konsisten pada pembicaraan di kala lain. Satu kali terpeleset dalam bicara, terungkaplah warna asli sang tokoh. Kemudian, ia menjadi lancung – dan seumur hidup orang tak percaya.

Saat seorang individu ketahuan berbohong atau sebuah organisasi mencemari dirinya dengan menipu, maka dalam jangka pendek citranya akan tercoreng, minimal di depan salah satu pemangku kepentingannya.

Bila itu terjadi beberapa kali, sangat boleh jadi citra itu makin memburuk, dan reputasinya makin merosot — bukan hanya di mata salah satu, melainkan di depan banyak pemangku-kepentingan. Hilanglah trust orang kepadanya, dan saat trust sirna turut sirna pula nama baiknya.

Tapi adakah resep untuk mengetahui bahwa seseorang sedang berbohong?

Nazaruddin

Ada beberapa kiatnya. Pertama adalah lewat ‘bahasa mata’. Orang berbohong lazimnya menghindari tatap mata (eye-contact) lawan bicara. Kecuali mereka yang sudah mahir bersandiwara, biasanya saat terjadi eye-contact itulah seorang pembohong tidak tahan menatap mata lawan bicaranya. Mungkin ia berkedip berkali-kali, atau mengalihkan pandangannya ke tempat lain.

Jika pandangan seorang pembicara mengarah ke kanan atas, boleh jadi ia sedang mencoba mengingat-ingat ‘gambaran’ sebuah peristiwa lampau. Saat itu ia sedang melakukan ‘visual remembering’ – dan boleh jadi ia tidak berbohong.

Tapi sebaliknya, jika pandangannya mengarah ke kiri atas, biasanya ia sedang melakukan konstruksi visual (visual construction), alias berimajinasi dan sangat mungkin ia sedang berbohong.

Kedua, perhatikanlah bahasa tubuh lainnya. Tanda awal kebohongan tampak saat ia berreaksi melalui gerakan tubuhnya terhadap pertanyaan yang diajukan kepadanya.

Ahli komunikasi dan psikologi mengatakan, ketika seorang dalam keadaan nyaman – atau rileks — lazimnya ia akan duduk santai, menyandarkan tangan di atas kakinya, atau kedua lengannya bertumpu di atas pegangan kursi dan menyilangkan kaki. Posisi penuh istirahat itu disebut ‘titik-titik tidur’(sleeps points).

Sebuah pertanyaan memojokkan akan segera menyentaknya, sehingga sleeps points tadi tiba-tiba ‘bangun’. Secara mendadak ia duduk tegak atau maju membusung, membebaskan kaki yang semula tersilang, atau menunjukkan gerakan (gesture) tangan baru. Mungkin saja gaya reaksi keterkejutan yang muncul berbeda-beda. Namun tetap bahwa sleeps points akan tersentak ketika mereka dihadapkan pada pertanyaan yang bisa membongkar ketidakjujuran.

Lazimnya ekspresi fisik pembohong terbatas dan kaku, dan ia mengurangi gerakan tangan dalam pembicaraan, atau ia menyembunyikan tangan di bagian belakang badan atau kantong.

Dengan kata lain, pembohong biasanya kurang cekatan dalam gerakannya. Selain itu, ia sering perlu waktu lebih lama untuk merespon pertanyaan, atau meletakkan benda tertentu (seperti cangkir atau asbak) di antara Anda dan dirinya.

Kebiasaan lainnya adalah menyentuh bagian wajah atau hidungnya berkali-kali. Para ahli komunikasi melihat gaya seperti ini pada Presiden Bill Clinton tempo hari – ketika ia menggaruk-garuk hidung saat bicara mengenai Monica Lewinski.

Selain itu, biasanya ada jeda waktu (pause) saat pendusta mengatakan sesuatu dan saat terjadi perubahan mimik mukanya.Misalnya, saat berkata,”Aku cinta padamu” seorang pembohong baru tersenyum beberapa detik kemudian.

Untuk pertahanan diri, lazimnya pembohong akan bersikap defensif, atau menambahkan detail-detail yang tidak perlu dalam pembicaraan, dalam usaha membuatnya tampak ‘jujur’. Guna menyembunyikan sesuatu, pendusta cenderung menjawab pertanyaan sulit dengan canda, lelucon, atau mengubah topik pembicaraan.

Yang di atas itu menunjukkan bahwa bahasa non-verbal sangat penting artinya dalam komunikasi. Ahli komunikasi mengatakan bahwa sekitar 60% komunikasi manusia ditentukan oleh bahasa non-verbal.

Kita tidak tahu apakah Nazaruddin telah menguasai teknik-teknik di atas, tapi kita berharap bahwa kasusnya bakal terungkap secara transparan dan adil.

*) Penulis adalah peneliti di Pusat Studi Islam dan Kenegaraan Universitas Paramadina. [mor]

Advertisements
 
 

Tags:

4 responses to “Nazaruddin dan Dusta

  1. -Jeany Chen- 이준나

    20/03/2012 at 5:03 pm

    Seperti dalilnya Lord Acton, “Power tends to corrupt”, berarti orang-orang yang punya kekuasaan dan uang memang seringkali melakukan perbuatan menyimpang. Kebohongan adalah salah satu senjata mereka untuk menutupi perbuatan menyimpangnya. Lie (bohong) itu sendiri pun memiliki arti yang ada di berbagai kamus di seluruh dunia, sehingga menandakan bahwa kata ini memang exist secara teoritis dan praktis di seluruh dunia. Saya jadi ingat kalau sebenarnya sudah banyak scientist yang menemukan alat pendeteksi kebohongan (lie detector). Mungkin jika hanya membaca body language, gesture dan beberapa kriteria yang telah disebutkan di atas memang cukup sulit… dan terkesan menebak-nebak… Sebenarnya, lie detector machine mungkin bisa diterapkan di pengadilan. Melalui riset saya terhadap artikel online, David W Martin dari North Carolina State University memberikan pengertian mengenai lie detector yaitu sebagai alat untuk mengukur tingkat emosi seseorang. David W Martin berpendapat bahwa manusia tidak dapat dipercaya untuk mengukur tingkat emosi seseorang. Kebohongan seseorang dapat terdeksi melalui tingkat emosinya yang terlihat dari kebenaran atau kepalsuan melalui pengukuran laju pernafasan, jantung, volume darah, denyut nadi dan respon kulit dan lain sebagainya. Jika boleh memberikan referensi, saya pernah baca di http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2011/06/alat-pendeteksi-kebohongan-krisna-tri-hermawan-psikologi-universitas-gunadarma-kelas-4pa04-npm-10507142-email-kr_15student-gunadarma-ac-id/ , bahwa ada banyak cara mendeteksi kebohongan yang mungkin bisa diberikan kepada Nasaruddin.
    Di luar negeri sudah menggunakan alat pendeteksi kebohongan (Lie Detector) yang amat terkenal yang kita kenal dengan Polygraph. Polygraph diciptakan pertama kali oleh James Mackenzie pada tahun 1902. Kemudian pada tahun 1921, dibuat versi modernnya oleh John Larson. Polygraph banyak digunakan oleh kepolisian atau FBI untuk melakukan interogasi dan investigasi suatu kasus. Sebaiknya Indonesia mulai mempertimbangkan dan mensosialisasikan pemakaian alat ini guna membantu mengatasi permasalahan negeri ini yang kian hari kian menjamur makmur dan subur. Jadikan tes ini sebagai prosedur rutin yang harus dijalani untuk para tersangka yang diduga melakukan kriminalitas. Nah seandainya sudah dijadikan prosedur rutin, pastilah angka kejahatan di negeri ini menurun dengan sendirinya. Who knows?

     
    • Syafiq Basri

      21/03/2012 at 3:08 am

      Terima kasih banyak untuk komentar yang mencerahkan ini, Jeany. Semoga petugas kita kelak akan makin pandai dalam mendeteksi kebohongan para penjahat, demi kebaikan bangsa Indonesia.
      Salam.

       
  2. mieke1506

    10/03/2012 at 12:47 pm

    Sepanjang pengetahuan saya, jujur memang tidak mudah, namun berbohong jauh lebih sulit lagi. Jadi, marii kita belajar jujur saja.

     
    • Syafiq Basri

      21/03/2012 at 3:09 am

      Benar sekali, Teh Mieke.

       

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: