RSS

5 Hal Yang Sering Diremehkan Orang

03 Mar

Hidup itu seperti cokelat -- atau klepon -- kadang Anda harus 'mengurusi' kandungan isi yg macam-macam.

Sepulang acara Maulid di Bangil, di resto rawon Nguling, Probolinggo, Kiwir ketemu sobat lamanya, Klepon. Aneh, ternyata Klepon lupa padanya…
  • “Lho, panjenengan iki lak Mbak Klepon kan? Mosok lali ambek aku ta?” kata Kiwir tiba-tiba dengan dialek Suroboyoan.
  • “Sampeyan siapa ya…?” tanya Klepon sambil tersipu manis. Tahi lalat kecil yang parkir di bagian kiri atas mulutnya menambah sedap wajahnya — membuat Kiwir makin geregetan. Huuughhh

– Aku Kiwir Mbak.. Temanmu di sekolah dulu. Kita kan sekelas di SD Inpres Pagi Masuk Petang, Condet. Mosok lupa? Tahun lalu kita kan sempat ngobrol di acara reuni teman-teman wartawan. Ingat?

+ Oh ya..ya… Ingat aku sekarang. Maaf ya Mas. Tapi sampeyan memang manglingi — berubah banyak. Apa karena kurusan atau karena sampeyan ketoke makin ganteng…?

– Huahaha… Syukurlah kalau ingat.

+ Ya maaf Mas… Bukan saya sengaja melupakan, tapi memang benar-benar gak ingat.

– Biasa, Mbak Klepon, kita ini cenderung khilaf dan alpa.

+ Iya Mas, kata nenekku, manusia cenderung meremehkan teman lamanya – dan sibuk ngurusi teman baru. Tapi aku gak ngeremehin Anda lho…

– Iya tahu, kamu kan orang baik. Tapi by the way buss way, nenekmu ngasih nasihat apa lagi?

+ Waktu itu, katanya sesudah dengar Irvan Pradiansyah di radio Smart FM, dia bilang setidaknya ada lima (5) hal yang sering diremehkan manusia.

Alhasil, ringkas cerita mereka berdua ngobrol sambil ‘ngiras’ rawon, kerupuk udang, dan macam-macam penganan ala Jawa Timuran di situ (jadi jangan tanya ’empek-empek ya…)

– Jadi, apa yang lima hal itu?

Bahasa Indonesia: Nasi Rawon Nguling, Probolin...

Nasi rawon, Nguling, Probolinggo. Mak nyuuuusss...

+ Ini Mas, dicatat ya… hehehe.. Aku koyo dosen ngajar mahasiswa ya? Gayane kui lho… Iyo to Mas?

– Hehehe… Iya, kayak dosen baru ngajar mahasiswa semester satu yang baru lulus SMA… Jadi apa saja?

+ Pertama, banyak dari kita sering meremehkan hal-hal yang sudah kita miliki, dan meng-‘agung’-kan yang belum kita miliki. Dalam hal ini termasuk pasangan hidup, suami atau isteri. Mentang-mentang sudah memiliki sebuah benda, mobil, televisi, HP atau rumah sekian lama, kita cenderung menganggapnya ‘remeh’. Padahal sebelum memilikinya, kayaknya sangat memuja banget benda itu…

– Iya ya.. dalam bayangan kita mikir, ‘Oh alangkah senangnya kalau punya mobil baru…’ Tapi habis itu, baru berapa bulan saja sudah merasa tidak seindah dulu ya.

+ Begitu pula katanya, waktu baru memiliki pasangan hidup.

– Oh ya? Waaaaah… aku gak berani komentar deh kalau soal suami-isteri… Mending teruskan saja. Yang kedua apa?

+ Hal-hal yang lama versus baru. Kita cenderung menganggap remeh barang lama, lagu lama, program, bahkan sampai teman — semua yang lama cenderung kita nomor duakan, dan mendahulukan yang baru.

– Buktinya apa Mbak?

+ Buktinya, betapa orang sibuk meladeni teman barunya di Facebook, tapi lupa berkomunikasi dengan kawan lamanya di dunia nyata.

– Oh iya ya.. benar juga. Lalu, yang ketiga?

+ Begini saja Mas Kiwir. Biar ringkas, saya sampaikan saja yang ke-3 sampai ke-5 ya… Kata nenekku, kita juga suka meremehkan:

  1. Hal-hal yang dekat Vs jauh. Itulah sebabnya muncul istilah ‘rumput tetangga lebih hijau’ — karena yang ada di depan mata kita anggap remeh. Ketika orang bicara dengan kawan di depannya, kadang sering melupakannya dan memilih berkutat dengan HP, menjawab sms, dan sebagainya, yang datang atau dikirim kepada orang-orang yang jauh, sementara kawan di depan justru ‘dicuekkin’. Identik dengan soal kawan lama dan baru, betapa banyak kawan kita (ya, maksudnya kawan lama) di luar Facebook sebelum ini, tapi kita justru sibuk ‘mengurus’ kawan ‘baru’ yang ‘jauh’ di dunia maya.
  2. Yang mudah , mudah didapat, mudah diurus, mudah dipelajari, versus yang dianggap ‘sulit’. Misalnya, buku yang didapat secara mudah, atau gratis, pasti dianggap remeh, ketimbang buku yang dibeli dengan mengorbankan sekian ratus ribu rupiah.
  3. Yang kita anggap ‘hak’ kita. Atau yang kita nilai sebagai ‘gift’ bagi kita. Semisal orang tua yang dikira sudah jadi ‘hak’ anak, maka ketika seorang ibu atau ayah meladeni anak, menyiapkan minum dan makanan yang disukainya, ia menganggap bahwa itu sudah menjadi ‘hak’nya, dan sudah menjadi ‘kewajiban’ orang tua untuk menyediakannya bagi sang anak. Akibatnya, pelayanan orang tua diremehkan. Begitu pula halnya dengan suami-isteri, atau boss dan anak buah.

– Weleh weleh weleeeeh…. Mbak Klepon ini memang top. Sudah bisa jadi filosof sekarang.

+ Ah, ‘nggak lah.. Aku kan cuma nerusin yang dikatakan nenekku — dan dia dengar dari radio. Ayo Mas, monggo rawonnya dimakan. Ntar keburu dingin lho…

– Kalau begitu, nenekmu yang ahli filsafat ya. Kirim salam hormat buat beliau ya. Aku jadi belajar hal baru sekarang. Matur nuwun lho Mbak. Alhamdulillah, rejeki ketemu sampeyan saya dapat tambahan ilmu. Huuuuugh… (masih juga geregetan Kiwir memandangi tahi lalat di mulut temannya).

Srupuuuttt… (suara kuah rawon di bibir Kiwir).

[Kiwir kemudian menyimpulkan: Walhasil, hidup ini memang mirip cokelat, atau kelepon, atau penganan lain; ada kalanya kita harus mengurusi atau berhadapan dengan bermacam-macam hal, berragam jenis manusia. Kadang ada yang otaknya berisi hal yang aneh-aneh, kadang ada yang manis seperti isi kelepon, kadang juga ada yang rada sinting (alias ‘nuts’ dalam ‘slang’ bahasa Inggris)].

Tulisan ini pernah dimuat dalam Note saya di Facebook, 4 Maret 2011.

Advertisements
 
 

Tags: ,

2 responses to “5 Hal Yang Sering Diremehkan Orang

  1. Pules

    18/04/2012 at 5:03 pm

    Membaca tulisan ini membuat saya malu hehe karena memang terkadang manusia mayoritas mempunyai kebiasaan seperti itu tidak terkecuali saya, kadang suka mempunyai rasa ingin memiliki suatu hal yg blm kita miliki dan menyepelekan hal yg sudah kita miliki, oleh karena itu benar kata orang bijak mengenai “Mendapatkan sesuatu merupakan hal yg mudah,tapi menjaga sesuatu merupakan hal yg sulit” dan mungkin seharusnya manusia termasuk saya harus lebih mensyukuri lagi akan hal – hal yg sudah kita miliki dan dapatkan, juga memulai berusaha untuk menjaga dan mempertahankan apa yg telah kita miliki/dapatkan dengan selalu mengurangi ego dan selalu intropeksi(flashback lagi) akan kesusahan kita mendapatkan hal tersebut, agar tidak mengalami penyesalan jika suatu hari hal tersebut harus hilang karena kita telah meremehkannya, dan baru menyadari akan penting dan berharganya hal tersebut setelah hal tersebut hilang.

     
    • Syafiq Basri

      19/04/2012 at 12:38 am

      Terima kasih Pules,
      Manusia memang mesti berusaha (dan selalu belajar) untuk selalu meningkatkan rasa syukurnya kepada Tuhan, agar tidak menyesal di kemudian hari. Selalu ada sisi terang dalam setiap masalah, selalu ada ‘kemudahan dan hikmah di balik kesulitan.’

       

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: