RSS

Aku Tidak Melihat Kecuali Keindahan

24 Jan

Sayyidah Zainab as termangu. Ia ditanya Ibn Ziyad di istananya di Kufah:

“Apa yang kau lihat pada diri saudaramu ini?”

Sambil mengajukan pertanyaan itu, Ibn Ziyad mengutak-atik gigi di kepala saudaranya, Al-Husain as, cucu baginda Nabi saw, yang baru saja syahid dipenggal di Perang Karbala, Iraq pada 10 Muharram 61 H.

Ibn Ziyad memang hendak mengina Siti Zainab, sang srikandi Karbala – yang bersama 71 orang lainnya menemani Al-Husain as dalam perang yang tidak seimbang – itu.

“Maa roaiytu illaa jamiielan,”jawab Siti Zainab.

Aku tidak melihat, kecuali sebuah keindahan!

Tentu saja Ibn Ziyad kaget tak alang kepalang. Bagaimana mungkin, seorang wanita menjawab demikian ‘cool’-nya, saat kepala saudaranya yang habis dipenggal dipermainkan di muka umum?

The Shrine of Sayeda Zainab (as)

Kubah Masjid (shrine of) Sayyidah Zainab binti Ali as

Tapi itulah Zainab, sebuah par excellence wanita keluarga (Ahlul Bait) Nabi saw.  Zainab yang adalah putri Siti Fatimah as — anak Nabi saw — itu hanya melihat sebuah ‘keindahan’, sebuah ‘kebaikan’.

Beliau rupanya sangat yakin dengan apa yang dikatakan Allah, Tidaklah akan menimpa kami sebuah musibah, kecuali yang telah ditetapkan Allah pada diri kami.”  Lan yushiibanaa illa maa katabAllahu lanaa,” bunyi ayat-Nya.

Kata ‘lanaa’ dalam ayat Qur’an itu bermakna suatu kebaikan – berbeda dengan ‘alaina’, yang meski artinya juga ‘ke atas kami’ atau ‘pada diri kami’  tapi memiliki makna sebuah kejelekan.

Zainab, sebagaimana para wali Allah lainnya, ‘yakin’ seratus prosen bahwa yang ada bagi mereka selalu hanyalah ‘lanaa’ – kebaikan – dan bukannya ‘alaina – keburukan; bahkan pada saat musibah sebesar itu dihadapinya, semuanya adalah kebaikan, keindahan.  Tak ada yang terlihat di depanku selain kebaikan saja (yang datang dari Allah).

Lukisan Nabi Muhammad saw saat tiba di Mekah (gambar oleh Ishaq al-Nishapuri sekitar tahun 1581).

Makna ini semua, kata Ustadz Muhammad bin Alwi, menunjukkan bahwa dalam keadaan apa pun, sedih dan senang, suka dan duka, miskin dan kaya, sehat atau pun sakit, maka yakinlah bahwa semuanya hanyalah kebaikan yang Allah berikan kepada kita.

Masalahnya memang tidak semua mengerti hal itu – sampai nanti Allah menunjukkannya pada kita. Orang awam seperti kita mungkin perlu bukti dulu, baru bisa yakin. Tapi bagi mereka yang suci jiwanya, para Nabi, para wali (auliya), keyakinan itu sedemikian tebal:  tidak ada sesuatu yg terjadi kecuali merupakan ketentuan Allah, dan ketentuan itu selalu yang terbaik — bahkan jika ketentuan itu berupa sebuah musibah yang amat dahsyat sekali pun.

Saat bercerita mengenai Nabi Yusuf as yang dibuang ke dalam sumur, atau saat bayi Musa kecil dihanyutkan ke dalam sungai Nil – semuanya ditetapkan Allah sebagai perjalanan sebuah ketentuan untuk memilihkan yang terbaik bagi manusia. Namun, memang kebanyakan manusia  tidak memahami hal itu. Kata Allah dalam Surat Yusuf 15, “wahum laa yash’uruun,” namun mereka tidak menyadari (mengetahui) hal (kebaikan) itu.

Walhasil, kata Ustadz lagi, tugas kita hanyalah berusaha semaksimal mungkin. Berikhtiar sekuat tenaga dan sebaik-baiknya. Lalu, ketika nanti sudah ada hasilnya, maka yakinlah bahwa hasil apa pun yang terjadi, itulah yang terbaik yang dipilihkan Allah bagi kita. Namun kebanyakan manusia tidak mengerti tentang itu.

Imam Husain (as), kakanda Sayyidah Zainab (as) dalam pandangan seorang penulis Nasrani Antoine Bara.

Imam Husain (as), kakanda Sayyidah Zainab (as) dalam pandangan seorang penulis Nasrani Antoine Bara.

Kata Nabi saw:

”Tanda orang yakin adalah: yakin adanya Allah, yakin adanya kematian (sehingga menyiapkan diri untuk mati); yakin pada datangnya Hari Kebangkitan; yakin adanya surga (maka selalu rindu pada surga); yakin bahwa neraka pasti ada (maka ia berusaha menghindarkan diri daripadanya); yakin bahwa ada Hari Hisab (maka selalu akan menghisab dirinya. Dan mereka yang selalu menghisap dirinya akan selamat dari hisab.”

Advertisements
 
4 Comments

Posted by on 24/01/2012 in Diskusi Agama, Pemikiran

 

Tags: , ,

4 responses to “Aku Tidak Melihat Kecuali Keindahan

  1. mieke1506

    22/02/2012 at 7:46 am

    Keindahan sebuah keyakinan yang benar memang luar biasa, sehingga – sebenarnya – sulit dijabarkan melalui kata-kata

     
    • Syafiq Basri

      25/02/2012 at 12:33 am

      Setuju, Bu Mieke… “Yakin” sendiri memang ada bertingkat-tingkat.
      Terima kasih atas komentar-komentar Bu Mieke.

       
  2. Hasan Abdillah

    26/01/2012 at 8:23 am

    Keindahan selalu dalam keyakinan dan kesadaran bahwa ketuntuan pada Allah swt.,kita hambanya mengihtiarkan scr optimal akan meneriam ujian nya ….demi mendapat iman sejati

     
  3. nadhifa

    24/01/2012 at 7:13 pm

    Selalu segar dan menarik pak, ini crita wktu arbain kmarin ya pak?

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: