RSS

Pentingnya Mendengar

29 Dec

Menjadi sukses itu melakukan yg terbaik -- termasuk dalam komunikasi

Pecah Kongsi: Perlunya Mendengar

Banyak pimpinan daerah pecah kongsi. Yang paling aktual adalah mundurnya Wakil Gubernur DKI Jakarta Prijanto.

Artikel aslinya disiarkan Inilah.Com, Kamis, 29 Desember 2011

Selain itu, sebagaimana data yang dikemukakan Kementerian Dalam Negeri, pada tahun 2010 lalu, hampir 94 % dari 244 pasangan kepala daerah dan wakil mereka yang dipilih melalui pemilihan langsung pecah kongsi. Bayangkan: cuma enam prosen saja yang hubungannya harmonis, sehingga kembali mencalonkan diri bersama-sama.

Kuat dugaan, di antara penyebabnya adalah komunikasi yang buruk antara pasangan itu. Memang ada latar belakang partai politik yang berbeda, atau perebutan pengaruh karena kedua pasangan lazimnya sama-sama merasa memiliki akses, sumber daya dan dana serta pendukung, atau sebab lainnya. Tetapi kita boleh yakin bahwa kalau saja komunikasi antar-pribadi para pimpinan itu baik, maka banyak perpecahan bisa dihindari.

Ahli-ahli kepemimpinan, management dan motivator di dunia juga sudah mengingatkan pentingnya komunikasi ini. Stephen Covey, penulis buku beken, “The 7 Habits of Highly Effective People,” mengatakan bahwa, komunikasi adalah ‘skill’ terpenting dalam hidup kita.

Kata Zig Ziglar, 85 prosen kesuksesan Anda tergantung kepada ‘relational atau interpersonal skill’: yakni seberapa pandai Anda ‘mengenal’ orang lain dan berinteraksi dengan mereka. Sementara itu, Thomas Faranda mengatakan,”Tidak ada yang lebih penting bagi seorang pemimpin ketimbang kemampuan berkomunikasi secara efektif.”

Komunikasi yang efektif itu akan terjadi ketika seseorang berhasil memperoleh pemahaman yang sesuai (diharapkan), menstimulasi orang lain untuk melakukan sebuah tindakan dan mendorong orang untuk berpikir dengan cara yang berbeda.

Agar efektif, maka dalam pergaulan, di dalam mau pun di luar kantor, kita mesti berkomunikasi dengan pendekatan konstruktif , bukan destruktif. Meski tidak selalu mudah, komunikasi yang ‘membangun’ – baik dengan boss, dengan wakil kita, anak buah, atau pun dengan anak kandung — akan menyegarkan mental yang diajak bicara, dan menyebarkan energi positif.

Ini perlu digarisbawahi, karena energi positif itu menular juga – meski tidak secepat energi negatif yang membuat orang apatis, yang ‘melumpuhkan’.

Di kantor, komunikasi konstruktif juga membuat tim kerja kian kompak, dan ‘mengangkat’ orang lain, sehingga dalam jangka panjang orang merasa pekerjaannya lebih ringan dan menyenangkan.

Salah satu kunci komunikasi yang efektif, menurut para ahli, adalah menganggap semua orang yang berkomunikasi dengan kita sebagai ‘customer’ – pembeli atau klien — yang berbisnis dengan kita. Berkat sikap ‘customer oriented’ itu, maka Anda akan selalu berusaha memberikan bukan saja kepuasan inti, tapi lebih dari itu: kepuasan maksimal, dan menciptakan kepercayaan di benak mereka.

Komunikasi model begitu biasanya dilakukan dengan sikap terbuka, tidak manipulatif, dan akan makin mendekatkan satu dengan yang lain – ibarat pedagang menarik pelanggan — serta mendorong munculnya keberhasilan bagi semua pihak.

Apa boleh buat, perkembangan teknologi belakangan ini, ditambah intensitas kesibukan yang kian meningkat dan makin beragamnya audience di sekitar kita, mengharuskan semua pihak — khususnya pemimpin seperti walikota, bupati, gubernur dan pengambil keputusan pada umumnya — untuk meningkatkan kecakapan komunikasi jangka panjang alias ‘relational skill’ secara efektif. Tidak peduli dari partai apa seorang pemimpin berasal, dalam kegiatan sehari-hari semuanya harus bisa memuaskan ‘pelanggan’.

Oleh karena itu, pemimpin yang bijak akan ingat pada dalil dalam komunikasi bahwa, “cara Anda mengatakan sesuatu sama pentingnya dengan ‘apa’ yang Anda katakan.” Dan yang dimaksud dengan ‘cara’ itu adalah ‘metode’, yakni ‘bagaimana’ Anda mengirim ‘pesan’ saat bicara dengan orang lain.

Mereka sadar bahwa hanya sekitar 7 sampai 10 % komunikasi kita direpresentasikan oleh ‘kata-kata’ (verbal) yang keluar dari mulut kita. Sementara, sekitar 90-an prosennya ditunjukkan oleh bahasa non-verbal yang kita gunakan: yakni 30-an % oleh intonasi suara (tone) kita, dan sekitar 60-an % ditentukan oleh bahasa tubuh (body language) kita.

Maka, kalau ada walikota mengucapkan kata ‘setuju’, tapi bahasa tubuhnya menunjukkan sikap berbeda, jangan salahkan bila yang diajak bicara – sang wakil walikota, umpamanya – menganggapnya sebagai ‘tidak setuju’.

Yang termasuk bahasa non-verbal itu, misalnya: gerakan mata, tone suara, postur atau sikap tubuh, dan ekspresi wajah. Diperkirakan bahwa manusia dapat menghasilkan lebih dari 650.000 sinyal non-verbal. Itu sebabnya ahli komunikasi dan psikologi bisa dengan mudah menilai apakah seseorang sedang berbohong hanya dari gerakan (gesture) tubuhnya. Pasalnya, bahasa tubuh sulit berbohong, tidak seperti lidah yang tak berulang.

Kunci berkomunikasi efektif lainnya, kata para ahli psikologi dan komunikasi, adalah ‘mendengar’ dengan baik. Yang dimaksud di sini bukan hanya ‘hearing’, tapi ‘listening’ atau menyimak dengan penuh perhatian — yakni ketika kita menunjukkan minat yang tulus terhadap apa yang disampaikan lawan bicara. Para pedagang (‘salesman’) professional yang pandai biasanya aktif mendengarkan keinginan konsumen dan keluhan mereka secara serius, guna menyelesaikan problem yang muncul dan memperoleh ‘customer loyalty’ dari para konsumen yang kelak mereka targetkan menjadi pelanggan.

Pendengar yang baik biasanya akan membiarkan orang lain bicara, dan tidak menjadi orang yang menguasai pembicaraan. Mereka tahu, ‘apa yang Anda sampaikan boleh jadi hanya menarik untuk Anda sendiri’, dan selalu memperhatikan tanda-tanda kebosanan pihak lain, serta mengajukan pertanyaan agar mereka dapat terlibat di dalam perbincangan.

lebih banyak mendengar daripada bicaraMereka itu biasanya juga pandai menciptakan suasana terbuka, demi menghasilkan hubungan yang baik dengan lawan bicara. Orang pun asyik dan merasa nyaman berbincang dengannya, karena ia juga berusaha mengurangi jumlah interupsi yang terjadi. Demi memberikan perhatian penuh, orang-orang seperti itu bahkan bersedia menyingkirkan meja antara dirinya dan lawan bicara, dan menghindari berkomunikasi di area sibuk agar bisa memelihara ‘fokus’ kepada pendengarnya.

Memang bahasa non-verbal tak boleh dianggap remeh, bila tak ingin gagal dalam berkomunikasi. Di dalam bahasa non-verbal ini termasuk juga bahasa ruang (misal satu meteran untuk akrab tapi bukan ‘intim’); penampilan, dan bahkan juga ‘kesunyian’. Sebab suasana senyap atau membisu bagi bangsa ‘modern’ (yang low-context culture) akan dianggap sebagai menghindar dari komunikasi, sementara bagi orang Indonesia atau Jepang – yang hidup dalam high-context cultures – bisa berarti ‘marah’.

Selain budaya, bahasa non-verbal juga dipengaruhi latar belakang sosial-ekonomi, pendidikan, jenis kelamin, umur dan preferensi pribadi masing-masing pembicara.

Sesungguhnya, semua komunikasi itu berkait dengan kekuatan persepsi. Komunikator yang baik secara konsisten akan terus mengembangkan kemampuan interpersonal yang meningkatkan persepsi positif orang lain terhadapnya. Untuk itu, biasanya ia akan mengirimkan ‘cues’ verbal, vocal dan visual yang memberikan kontribusi kepada munculnya komunikasi yang konstruktif dan mengundang munculnya respon positif dari lawan bicara.

Jadi, meski kecakapan dalam mengerjakan tugas adalah penting, bagian terbesar kesuksesan Anda sesungguhnya tergantung pada ‘seberapa pandai Anda dan anggota tim’ dalam melaksanakan koordinasi dan kerjasama untuk mencapai target yang dicanangkan.

Walhasil,orang mesti ingat bahwa efektivitas pekerjaannya sehari-hari, sebagai walikota, atau gubernur, umpamanya, tidak hanya ditentukan oleh ‘keahlian” (expertise) –nya dalam skill teknis belaka. Efektivitasnya tergantung kepada kecakapannya dalam berhubungan dengan orang lain, yang kuncinya ada pada komunikasi.

*) Konsultan Komunikasi, dosen Jurusan Komunikasi Program Pascasarjana Universitas Paramadina, dan alumnus MA in Journalism, UTS (Australia). @sbasria.

Advertisements
 

Tags: ,

One response to “Pentingnya Mendengar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: