RSS

Mengejar Kebahagiaan

23 Dec

English: Indonesian map showing the provinces,...

Indonesia - index kebahagiaannya di bawah Malaysia, Thailand dan Filipina

Ahad 25 Desember kemarin, salah sebuah TV menayangkan film  “The Pursuit of Happyness” — dan ia pun menjadi trending topic di Twitter.

Bicara soal ‘happyness’  (atau happiness) bagi kita orang Indonesia, maka kita pun bertanya: benarkah kita tidak sebahagia warga Malaysia dan Thailand? Benarkah orang kaya belum tentu lebih bahagia ketimbang yang miskin? Adakah resep agar bahagia terus?

The Pursuit of Happyness

Anak, salah satu sumber kebahagiaan ayah.

Tulisan ini telah mengalami pengembangan; artikel aslinya dapat disimak di Inilah.com, 22 Desember 2011.

Syafiq Basri Assegaff.

Pernah menonton filmThe Pursuit of Happyness’? Kisah dramatis tentang tunawisma yang ‘mengejar kebahagiaan’ itu membuat Will Smith, pemeran utamanya, mendapat nominasi pemain terbaik pada Academy Award dan Golden Globe.

Maka menjelang Tahun Baru ini tepat kiranya bila kita bicara soal kebahagiaan itu. Pasalnya, pada saat-saat seperti ini banyak yang merenungkan apa yang telah mereka capai setahun lampau. Tidak peduli apa pekerjaan atau status Anda, bisa dipastikan pada tahun 2012 Anda pasti ingin lebih bahagia ketimbang tahun 2011.

November 2011 lalu PBB menerbitkan laporan indeks kebahagiaan ‘Human Development Index’, dan menetapkan bahwa Norwegia adalah negara paling bahagia di dunia.

Di bawahnya, ranking kedua sampai lima diraih Australia, Belanda, AS dan Selandia Baru. Penetapan 187 negara itu antara lain didasarkan pada penghasilan, tingkat pendidikan, kesehatan, harapan hidup dan ekonomi masing-masing negara

Lalu bagaimana dengan Indonesia? Dalam indeks itu Indonesia berada di posisi 124, jauh di bawah tetangga kita Malaysia (61), Thailand (103) dan Filipina (112), tapi di atas Vietnam (128) dan India (134).

Yang menarik, negara-negara di Timur Tengah dan Afrika yang bergolak masih menduduki level cukup tinggi. Mesir, misalnya, berada di urusan 113, satu tingkat di atas Palestina (114), sementara Libia berada di posisi 64.

Menurut PBB, pada pokoknya indeks ‘happiness’ itu menunjukkan bahwa bila umur Anda lebih panjang, pendapatan lebih banyak dan memilih akses yang bagus terhadap pendidikan dan fasilitas kesehatan, maka mungkin sekali Anda akan lebih bahagia ketimbang orang lain.

Tetapi, itu adalah angka per negara. Lalu, bagaimana kebahagiaan di tingkat pribadi kita masing-masing?

Cover of "The Pursuit of Happyness (Wides...

Film "The Pursuit of Happyness"

Sebab kita tahu bahwa secara individual, kebahagiaan seseorang memang tidak otomatis sama dengan angka statistik sebuah negara, karena ia merupakan soal yang sangat pribadi, dan sangat subyektif, tidak otomatis sama dengan yang ada dalam laporan PBB di atas.

Nah, pada tingkat individu itu kita lantas bertanya, apa resep untuk meraih kebahagiaan? Mengapa ia begitu penting, dan dapatkah mendefinisikannya secara ringkas, logis dan mudah dipahami?

Masalahnya dengan kebahagiaan adalah ia sangat sulit dinyatakan secara tegas. “It’s hard to pin down,” kata orang Barat. Ia sangatlah cair, transient (sekelebat), dinamis. Juga licin.

Sebagian ahli ekonomi lebih suka menggunakan kata ‘utility’ (kegunaan) – semacam mengevaluasi ‘guna’ uang atau harta yang Anda punya, seberapa bergunanya mobil yang Anda miliki, dan sejenisnya. Kira-kira, makin berguna milik Anda itu, maka mestinya Anda makin bahagia.

Kalau itu bisa diterima, kemudian kita bisa mengkaitkannya dengan fenomena yang populer di Indonesia dengan istilah ‘berkah’. Makin banyak manfaat harta yang Anda miliki – sesedikit apa pun hitungan kata ‘banyak’ itu – bagi lebih banyak orang, berarti harta itu makin berkah. Sehingga pemiliknya makin bahagia.

Para psikolog dan ahli sosial memilih untuk bicara Subjective Well Being (SWB), yakni katakanlah semacam perasaan senang (atau nyaman) yang subyektif. Artinya, perasaan seseorang yang berbahagia itu hanya bisa dirasakan orang itu sendiri, sementara orang lain tidak bisa merasakannya.

Bila fenomena ini diterima, maka Anda mungkin tidak akan heran melihat seorang buruh kasar tidur secara amat nyenyak sambil bertelanjang dada di atas truk terbuka, sementara seorang konglomerat malah sulit tidur di ranjang yang berharga puluhan juta rupiah.

Boleh jadi itu benar. Sebab para ahli menemukan bahwa ternyata Subjective Well Being —atau happiness – lazimnya tidak berkaitan dengan tingkat penghasilan (kuli tidak berbeda dengan pengusaha kaya).

Selain itu, ia tidak tergantung pada tingkat pendidikan dan tidak berhubungan dengan status sosial (rakyat jelata atau pejabat tinggi). Malah, ia juga tidak terikat pada status perkawinan, sehingga, kata sebagian ahli, seorang yang belum menikah bisa lebih bahagia ketimbang yang sudah berkeluarga.

Pendapat di atas boleh jadi benar seluruhnya, atau hanya sebagian benar, dan tentu saja Anda bisa memperdebatkannya – apalagi karena penelitian mengenai hal ini tampaknya masih terus berlangsung di berbagai pusat studi di dunia.

Yang jelas, kita mesti membedakan kebahagiaan sesaat dan kebahagiaan jangka panjang atau terus menerus. Pertanyaannya, bila hari ini kita merasa bahagia, bisakah perasaan itu bertahan dalam diri kita selama satu-dua tahun ke depan? Bisakah ia bercokol seumur hidup kita?

Hal itu rupanya terkait dengan daya adaptasi, yang merupakan salah satu ciri makhluk hidup. Manusia (ya…Anda dan saya) punya kemampuan untuk beradaptasi yang luar biasa terhadap lingkungan. Sehingga dalam situasi bencana, atau musibah, misalnya, kita bisa menyemalamatkan diri dari berbagai ‘tragedi’ yang lebih menyedihkan seperti bunuh diri, dan sebagainya.

Berkat adaptasi, seorang yang terserang kelumpuhan akibat stroke, misalnya, pada awalnya akan menderita luar biasa. Tapi setelah jangka waktu tertentu, tingkat kebahagiaannya hanya sedikit di bawah populasi pada umumnya.

Demikian pula sebaliknya – misalnya orang yang merasa lebih bahagia sesudah menikah, setelah jangka waktu tertentu tingkat kebahagiaan yang dirasakannya tidak jauh beda dengan level sebelum ia menikah.

Maka, ketika standar hidup kita meningkat, pada awalnya kita akan sangat menyukainya – artinya kita merasa sangat bahagia – tapi kita kemudian akan merasa terbiasa dengannya.

Kemudian peningkatan standar itu hanya sedikit membawa perbedaan ketimbang sebelumnya. Masalahnya, kita kemudian menjadi sulit untuk kembali ke titik saat kita memulainya tempo hari.

Ketika Anda belum punya mesin pengatur suhu (AC) di rumah dulu, barangkali Anda merasa biasa, dan selalu bahagia di dalam rumah. Tapi sekarang, setelah hidup dengan AC di setiap ruangan, misalnya, Anda pasti tidak bisa membayangkan untuk hidup tanpa pengatur suhu itu.

Itulah sebuah kepuasan dalam hidup, yang menurut peneliti soal kebahagiaan disebut dengan ‘life satisfaction’. Dalam bahasa agama, sesungguhnya itu mirip dengan sikap ‘qana’ah‘ — yakni merasa berkecukupan.

Bila Anda pandai menyesuaikan diri dengan keadaan sekitar, atau melakukan adaptasi (atau ‘habituation’) boleh jadi Anda akan merasa lebih bahagia dalam jangka panjang, baik Anda punya AC atau pun tidak.

Mungkin mirip dengan istilah ‘nerimo’ dalam bahasa Jawa, qana’ah punya makna aktif, sebagai sikap pada hasil setelah berikhtiar, dan bukan sekedar ‘menyerah’ pada keadaan.

Kata Khalifah ke-4, Ali bin Abithalib as, “Qana’ah adalah harta karun yang tak pernah habis.” Teman saya yang orang Inggris menuliskannya sebagai,‘Contentment is the capital which will never diminish.’

Bisa dikatakan bahwa hal itu nyatanya berhubungan dengan upaya ‘adaptasi’ dalam jiwa orang. Yakni penyesuaian secara ruhani orang untuk tidak selalu menuruti nafsu dirinya saja, atau mengejar segala kenikmatan dunia sepanjang hidupnya, tanpa pernah merasa berkecukupan. Sehingga bila seseorang bersikap demikian, sangat besar kemungkinannya orang itu akan bahagia.

Orang-orang bijak menasihati bahwa, mengejar dunia itu ibarat minum air laut saat haus: makin banyak Anda minum semakian hauslah Anda. Oleh karenanya, masih kata Ali, “Sebaik-baik harta adalah meninggalkan keinginan yang tidak perlu.”

Walhasil, secara singkat kebahagiaan barangkali lebih tepat dirumuskan sebagai: “Sebuah prosesmengejar (harta, ilmu) sebanyak-banyaknya (dengan cara halal), lalu menikmatinya dalam hidup secara ‘qana’ah‘, dan membaginya kepada orang lain (sehingga berkah).”

Selamat Tahun Baru.

*) Konsultan Komunikasi, dosen di Program Pascasarjana Universitas Paramadina, dan alumnus MA in Journalism, UTS (Australia). @sbasria. [mor]

Advertisements
 
 

Tags: , , , , , ,

9 responses to “Mengejar Kebahagiaan

  1. Panindratama

    20/04/2012 at 9:49 pm

    Alhamdulillah bisa mendapatkan pencerahan yang membuat hidup lebih bermakna dan zuhud sesuai dengan yang Allah tuliskan dalam Al-Quran semoga kita semua diberikan barokahNya. Amiin

     
    • Syafiq Basri

      21/04/2012 at 1:38 am

      Amiin.. Terima kasih.

       
  2. Intan Dewi Karlita

    21/02/2012 at 8:30 pm

    Rasa syukur hilang ketika adanya ketidakadilan di dalam hidup manusia

     
  3. Syafiq Basri

    31/12/2011 at 12:47 pm

    Terima kasih banyak, Brother Hasan Abdillah.
    Benar. Semoga kita bisa menjadi hamba yang selalu bersyukur. Sebab rasa bersyukur itu sendiri sudah merupakan sebuah kenikmatan yang memerlukan syukur baru lagi.
    Salam.

     
  4. Hasan Abdillah

    30/12/2011 at 3:48 pm

    Kebahagiaan..,sebuah harapan setiap manusia ,namun relatif ada nya setelah jadi pilihan kita.Yang kita dapat rasakan bahwa,me makna i nya yang menjadikan faktor kebahagiaan itu sendiri.Sungguh indah saat muncul rasa bahagia datang, yang patut kita rasakan dengan syukur sedalam dalam nya,kepada sang Pencipta .Tentunya bersyukur melalui sebab perantara yang Tuhan berikan ,hingga kita memaknai kebahagiaan tersebut ,bahwa kita pandai meneriamanya dengan rela dan puas.Dan memahami yang menciptakan bahagia adalah sang kholik rabbul alamin. salam bahagia HASAN ABDILLAH….

     
  5. Maritha Supriantoro

    30/12/2011 at 10:06 am

    Nice artikel sir !!

    Sebuah kebahagiaan, adalah sebuah hal yang diciptakan oleh diri kita sendiri. Sebuah makna yang dalam dengan sebuah “cita-cita” didalamnya. Tidak ada orang yang tidak ingin bahagia. Sebuah kebahagiaan memang tidak semata-mata ada, ia datang karena ada usaha untuk mencapainya.

    Usaha yang real memang kita jalani maupun pikiran kita yang mencari kebahagiaan itu. Dengan kata lain, yah untuk mencapai kebahagiaan memang perlu adanya upaya kesana dalam hal ini satu orang dengan orang lain mempunyai “tolak ukur pencapaian bahagianya sendiri-sendiri’ baik dengan bekerja, berekreasi maupun belanja. Ada lagi kategori kebahagiaan yang kita ciptakan dengan arahan pikiran kita sendiri wujudnya adalah : syukur, menerima apa adanya dan selalu evaluasi diri bahwa Allah telah memberikan yang terbaik untuk kita.

    Dengan menanamkan positif thinking dalam diri kita, selalu bersyukur, qonaah dan selalu memberikan kasih sayang dengan diri kita sendiri, orang-orang disekitar kita, dan alam sekitar. Diiringi tasbih, takbir dan tahmid. Senyuman dan kebagiaan niscaya akan menghampiri dengan memberikan “salam” terbaiknya untuk orang-orang yang senantiasa ada untuk bahagia.

     
    • Syafiq Basri

      30/12/2011 at 11:59 am

      Terima kasih, Maritha. Sebuah komentar yang menambah resep kebahagiaan kita.
      Salam.

       
  6. mieke1506

    24/12/2011 at 9:55 pm

    Ini komentar sederhana dari seorang awam – yang mungkin tidak relevan dengan tulisan di atas (saking sederhanaya).

    Kebahagiaan, konon, adalah pilihan. Kita dapat memilih untuk bahagia juga dapat memilih untuk tidak berbahagia. Pada saat suami kita, misalnya, menikah lagi, kita punya banyak plihan yang kalau disederhanakan menjadi: tetap bahagia atau menjadi tidak bahagia. Seorang teman perempuan, yang sering mengeluhkan “kekurangan” suaminya, menjadi seperti kebakaran jenggot saat tahu bahwa suaminya menikah lagi. Ia datang meminta saran saya. Saya bilang: “Bukankah sekarang kamu akan merasa lebih nyaman karena separuh dari perilaku “menyebalkannya” akan ditanggung istrinya yang lain?” Mula-mula ia terperangah, tapi kemudian : “Betul juga. Sekarang aku punya minimal 3 hari untuk diriku sendiri, tanpa gangguan-gangguannya yang menyebalkan.” Singkat cerita, sampai saat ini ia tetap hidup “bahagia” (sy beri tanda kutip untuk menunjukkan, bahwa boleh jadi bahagia di sini beda dengan bahagia saat ia masih menjadi istri tunggal suaminya).

    Keadaan yang sama, bila dipersepsi berbeda, akan menghasilkan sesuatu yang berbeda. Jadi, pada saat kita tidak mampu mengubah suatu keadaan, kita masih selalu bisa “mengubahnya” dengan berusaha mengubah persepsi kita atas keadaan tersebut. Salam

     
    • Syafiq Basri

      24/12/2011 at 11:35 pm

      Wah, Bu Mieke ini hebat sekali! Tulisan komentar Anda itu sendiri sudah sangat menarik dan penuh makna. Saya belajar banyak dari komentar-komentar Anda. Hatur nuhun dan salam. 🙂

       

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: