RSS

Ketika Ikan-ikan Ngumpul

16 Dec

Mengenang tsunami Aceh 26 Desember 2004, baiklah kita doakan ratusan ribu korban yang telah meninggal: semoga Allah SWT mengampuni dosa-dosa mereka dan memasukkan mereka dalam surga-Nya. Doa yang sama buat orang tua dan guru-guru kita, serta kita sendiri. Amin Ya Robbal ‘Alamin.

Tulisan di bawah ini juga saya unggah kembali — karena mengaitkannya dengan bencana hebat yang menewaskan lebih dari 230 ribu tujuh tahun lalu itu.

 

Ikan-ikan kumpul. Bukan, mereka tidak sedang arisan, sebab tidak semua mereka ikan perempuan, tapi ada banyak ikan laki-laki juga… maka kecil kemungkinan mereka ngariung untuk arisan… 🙂

Kakap, Salmon, Tuna, Piranha, Ekor Kuning dan ribuan teman-teman mereka sedang prihatin. Mereka merenung tentang diri mereka, tentang air, tentang lautan. Tentang alam…

Hari itu, 26 Desember – persis dua hari sesudah ulang tahun air laut menggunung, dan tsunami memporak-porandakan Aceh dan sekitarnya, 24 Desember 2004. Lebih 200 ribu orang meninggal atau hilang. Inna lillahi wa inna ilaihi rooji’uun…

Hari itu para ikan di Samudera Indonesia kumpul di hadapan pemimpin mereka, Presiden SBA. (Jangan berpikir ‘neko-neko’, SBA itu bukan salah ketik atau bermaksud memplesetkan singkatan lain, maksudnya Syafiq Basri Assegaff,yang nulis catatan ini … )

Ikan-ikan itu berkata,”Wahai Presiden SBA, kami bermaksud menghadap lautan. Bukankah karena ia kami berada dan tanpa ia kami tidak akan ada? Tolong, Pak, tunjukkan kepada kami arahnya, dan ajari kami jalan untuk menuju dan mencapai lautan. Sudah lama kami mendengarnya, tapi tidak mengenalnya. Kami tidak tahu di mana tempatnya, dan ke mana arah mencarinya.”

SBA menanggapi, ”Saudara-saudara sebangsa dan setanah air, oh bukan, maksudku, sebangsa dan seair… Apa yang kalian katakan itu tidak pantas bagi kalian, dan semua orang, oh err… maksud saya semua ikan, seperti kalian. Lautan terlalu luas untuk kalian gapai. Ini bukan urusan kalian. Ini juga bukan posisi kalian. Diam sajalah…”

Ikan-ikan diam. Terhenyak. Mereka tidak menyangka Presiden SBA melontarkan kata-kata yang sama sekali tidak demokratis, padahal waktu pemilu lalu, ia menjanjikan akan lebih mementingkan keperluan rakyat. Dasar… Dulu waktu kampanye janjinya muluk-muluk. Sekarang, sesudah jadi pemimpin, lupa deh sama janjinya…

“Jangan bicara dengan kata-kata seperti itu. Cukuplah kalian yakini bahwa kalian berada karena adanya lautan, dan tidak akan ada tanpa keberadaannya,” tambah SBA.

Para ikan, ekor kuning, hiu, paus, piranha (yang hijrah jauh-jauh dari hutan Amazon), tuna, kakap, dan banyak lainnya, berkata: “Maaf, Pak… Jawaban Bapak itu tidak ada gunanya bagi kami. Larangan itu tidak akan mencegah kami. Kami tetap harus menujunya. Bapak harus menunjuki kami untuk mengenalnya, dan membimbing kami ke dalam wujudnya.”

Melihat gelagat ini, SBA sadar bahwa larangannya tidak mempan. Ikan-ikan tidak menggubrisnya – ia takut kena impeachment, seperti yang terjadi beberapa tahun lalu terhadap pemimpin sebelumnya.

Ia lalu menjelaskan: “Saudara-saudara, lautan yang kalian cari, yang ingin kalian temui, ada bersama kalian, dan kalian bersamanya. Ia meliputi kamu dan kalian diliputinya. Yang meliputi tidak terpisah dari yang diliputi. Lautan itu adalah yang di situ kalian berada. Ke mana pun kamu menghadap, di situ ada lautan. Di sekitarmu tidak ada yang lain selain lautan. Lautan bersamamu dan kalian bersama lautan. Kamu pada lautan dan lautan pada kamu. Ia tidak gaib darimu. Kalian juga tidak gaib darinya.Ia lebih dekat padamu daripada urat lehermu.”

Para ikan terhenyak. Bukan, terkejut malah…! Mendengar ucapan SBA, mereka pada bangkit untuk membunuh sang pemimpin. SBA pun lalu berkata kepada mereka,”Apa salahku sehingga kalian ingin membunuhku?”

Mereka menanggapi: “Karena, menurut Bapak, lautan yang kami cari adalah yang di situ kami berada. Bukankah kami berada dalam air. Apa hubungannya air dengan lautan? Bapak hanya ingin menyesatkan kami dari jalannya. Bapak memperdayakan kami…”

“Tuuuuh kaaaan… Aku sudah bilang apa tadi? Bukankah tadi aku bilang lebih baik kalian diam saja?”, kata sang pemimpin yang arif , ganteng dan bijaksana itu. Ia lalu menambahkan, “Demi Allah, aku hanya mengatakan yang sebenarnya. Sama sekali tidak menyesatkan. Sebetulnya, lautan dan air itu satu dalam hakikat. Di antara keduanya tidak ada perbedaan. Air adalah nama lautan dari segi hakikat dan wujud. Lautan adalah nama baginya dari segi kesempurnaan, kekhususan, keluasan, dan kebesaran di atas semua fenomena.”

Tulisan di atas adalah hasil utak-atik gatuk. Awalnya adalah Sayyid Haydar Amuli, sufi besar abad ke-14 yang menukil kisah ikan-ikan di atas, untuk menggambarkan hubungan makhluk dengan Tuhan, seolah antara ikan-ikan dengan lautan. Tentu saja perbandingan (analogi) itu tidak tepat. Ia hanya sekedar upaya untuk menyederhanakan hakikat yang sangat jauh dari ruang lingkup pengalaman kita.

Toh, seperti kata Jalaluddin Rahmat yang menceritakan kembali karya Amuli di atas (dalam pengantarnya di buku Imam Khomeini, “Rahasia Basmallah dan Hamdalah”, Mizan, 1994), tidak banyak yang bisa memahami kisah itu. Malah, sejarah membuktikan, alih-alih dari berterterima kasih, seperti ikan-ikan tadi banyak orang yang menolak penjelasan tadi, mengkafirkan mufasirnya.

Tidak jarang malah membunuhnya.

###

Advertisements
 
5 Comments

Posted by on 16/12/2011 in Diskusi Agama, Pemikiran

 

Tags: ,

5 responses to “Ketika Ikan-ikan Ngumpul

  1. Intan Dewi Karlita

    21/02/2012 at 7:44 pm

    “Hari itu, 26 Desember – persis dua hari sesudah ulang tahun air laut menggunung, dan tsunami memporak-porandakan Aceh dan sekitarnya, 24 Desember 2004.”

    Saya masih agak bingung dengan kalimat ini Pak, namun yang ada dibenak saya, bahwa Bapak menuliskan Tsunami Aceh terjadi pada tanggal 24 Desember 2004.
    Setahu saya dan cerita teman saya juga, Tsunami Aceh itu terjadi pada tanggal 26 Desember 2004,(Seperti kalimat awal artikel) bukan 24 Desember 2004.

    Mohon pencerahannya Pak, mungkin saya yang salah 🙂

     
  2. Intan Dewi Karlita

    21/02/2012 at 7:23 pm

    “Hari itu, 26 Desember – persis dua hari sesudah ulang tahun air laut menggunung, dan tsunami memporak-porandakan Aceh dan sekitarnya, 24 Desember 2004.”

    Saya masih agak bingung dengan kalimat ini Pak, namun yang ada dibenak saya, bahwa Bapak menuliskan Tsunami Aceh terjadi pada tanggal 24 Desember 2004.
    Setahu saya dan cerita teman saya juga, Tsunami Aceh itu terjadi pada tanggal 26 Desember 2004, bukan 24 Desember 2004.

    Mohon pencerahannya Pak, mungkin saya yang salah 🙂

     
    • Syafiq Basri

      21/02/2012 at 8:58 pm

      Intan, Anda benar. Memang tsunami Aceh terjadi pada 26 Desember 2004, seperti termaktub di bagian atas cerita itu. Di bawahnya, kalimat yang saya tulis keliru ya..
      Terima kasih.

       
  3. mieke1506

    17/12/2011 at 9:04 pm

    Seperti pada umumnya, dibutuhkan suatu pengetahuan/pemahaman awal untuk pemahaman selanjutnya/baru. Tanpa itu, biasanya, kita “terjerembab”.. Selamat malam, Bang Syafiq. Ayo,menulis lebih banyak lagi, jadi saya dapat belajar melaluinya – terima kasih

     
    • Syafiq Basri

      18/12/2011 at 12:44 pm

      Terima kasih banyak Bu Mieke, atas komentar Anda. Insya Allah akan menulis lebih banyak lagi. Juga akan lebih banyak belajar dari Anda juga. 🙂

       

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: