RSS

10 Pedoman Menulis Cerita

04 Dec

10 Lingkaran.

(Catatan ringkas bahan kuliah ‘Teknik Menulis’ — dari sumber di buku teks kuliah yang saya lupa judulnya.)

  1. Kebutuhan mendesak (atau ‘Urge’) – Ada kebutuhan menciptakan sebuah kreasi, desakan yang muncul dalam kondisi nir-bentuk, sulit dijelaskan — semacam impuls, “gatal”, sesuatu yang mendorong dari dalam yang bikin kita ‘gak’ bisa diam. The creative urge: a need that comes to us in some formless state – the impulse, the itch, something stirring within that will not quite give us peace.
  2. Inspiration: kilatan, a mental leap. Ahaa!! Biasanya idea ini tidak terlalu gambling, fragile, undeveloped state. – bisa ditemukan di berbagai kejadian atau keadaan, jangan lewatkan. Segera catat. Bahkan catatan penolakan dari editor bisa menjadi acuan untuk sebauh inspirasi.
  3. Research: idea kasar memerlukan bahan baku yang lebih banyak, dan ini diperoleh dari riset, bicara dengan berbagai pihak, didahului dengan membaca informasi – agar tidak terjadi ‘cold interview’.
  4. First Draft: You have everything in your head. A story, a plot. Sekarang Anda perlu mesti memutuskan bagaimana memulianya: strategi apa, pendekatan yang bagaimana. Mestikah saya mulai dengan sebuah dialog? Actio? Sketsa karakter? Apakah memulainya secara kronologis sejak awal, hingga akhir, ataukah sebaliknya, retrospektif? Ini fase yang tidak mudah. Untuk sebuah novel bisa memakan waktu berbulan-bulan. Untuk kisah singkat, semacam cerpen, bisa 1-2 hari.
  5. Revision. Kembali ke Draft awal. Membaca kembali dengan kepala yang dikosongkan. Buat catatan di sana-sini, tambahan dan penyempurnaan. Jika sebuah dialog terkesan kaku, buat catatan mengoreksinya. Kadang ini dilakukan hingga 2-3 kali.
  6. Completion: sekarang anda mengteiknya secara jernih, a clean copy, meski masih didampingi kamus atau bahan referensi lain di samping anda. Sesudah selesai, baca sekali lagi.
  7. Submission: Saat ini anda mengirim naskah kepada redaksi Koran atau majalah, atau penerbit buku (bila anda menulis buku). Ini tahap paling sulit. Penolakan bagi penulis muda sering terjadi. Anda harus siap menghadapi hal ini. Semua penulis harus siap belajar menjadi gigih, tough, menerima tolakan, menerima kritik dan saran.
  8. Elation: Ketika dimuat Anda akan merasa sangat senang. Anda merasa seorang jago menulis, seorang genius, seorang master. Sastrawan!
  9. Second Thoughts: Sesudah fase gembira, penulis sering merasakan kembali tulisannya yang dipublikasikannya tidak sebagus yang diinginkannya. Ia kecewa. Tapi perasaan ini bisa dihalaui.
  10. Dormancy: Sekarang anda masuk dalam masa tenang, masa ‘tidur’, mengalihkan perhatian ke tempat lain yang sebelumnya anda abaikan. Tapi, percayalah, sesudah ini anda akan merasa tergugah lagi untuk menulis kembali.
Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on 04/12/2011 in Study

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: