RSS

‘Bekas’ – Mengapa Memory Terekam di Otak?

02 Dec

Runtuhnya jembatan di Tengarong  tempo hari membuat kita miris. Betapa tidak, jembatan sepanjang 720 meter di Kutai Kartanegara yang seharusnya masih bisa berfungsi selama 25-an tahun, tiba-tiba runtuh saat baru berusia 10 tahun.

Akibatnya, lima orang tewas, 30 orang terluka dan 23 orang belum diketahui nasibnya.

Tentu saja ini akan melekat erat dalam benak banyak orang. Jembatan itu kini menjadi sejarah. Sejarah tentang pembangunan, sekaligus juga sejarah keteledoran. Mungkin juga sejarah keserakahan.

Tapi apa sebenarnya yang kita pelajari dari sejarah? Ia adalah bekas-bekas. Ia bekas yang memberikan pelajaran kepada manusia yang berakal: untuk membacanya, me-review, mengkritik, dan melakukan studi terhadapnya. Ada kesalahan yang tak perlu diulang; ada kisah sukses. Ada ‘lessons learned‘.

Itu sebabnya orang yang berpengalaman punya nilai lebih dibanding yang tidak. Di sisi itulah, di sisi track record itulah ‘orang tua’ dapat mengalahkan yang muda. (Sementara orang muda juga punya ‘kelebihan’, berupa ‘masa depan yang menjanjikan’).

Dengan kata lain, track record adalah ‘sejarah‘ — sebuah alur yang telah melalui suatu masa (detik, menit, bulan, tahun atau pun abad). Contoh paling nyata adalah aliran air sungai; tempat sebuah bekas lewat dan tidak akan kembali lagi dengan situasi yang sama. Karena ‘air’ yang detik ini mengalir di tempat A, tidak sama dengan ‘air’ yang mengalir satu detik kemudian di A itu — karena dia sudah berada di lokasi B, atau C atau D.

Tulisan ini awalnya dimuat dalam portal media “Inilah.Com”, 1 Desember 2011.

[Catatan: Sebuah contoh adalah ‘bekas’ memory mengenai tokoh seperti Jokowi, walikota Solo yang baru saja memenangkan pemilihan gubernur Jakarta 20 September 2012 lalu. Silakan merujuk kepada artikel yang lebih baru mengenai ini, dengan judul: “Benarkah Reputasi Jokowi Tentukan Kemenangannya?”]

Namun, bekas di dalam diri (atau ‘jiwa’) manusia menjadi menetap. Ia bercokol dalam sebuah ‘relung’ — yang abstrak bagi awam, tapi mungkin saja terdeteksi secara ilmu, termasuk teknologi kedokteran dan kedokteran jiwa atau pun psikologi.

Dalam konteks sehari-hari, pernahkah nama Anda dipanggil dari balik pintu? Meski tidak melihat sosok orang yang menyeru, toh Anda menengok, atau langsung menyambut panggilan itu. Pertama, karena nama Anda disebut. Kedua, karena Anda mengenali suara yang memanggil itu.

Keduanya adalah bekas. Yang pertama, bekas sejarah perjalanan ‘asma’ yang dilabelkan pada diri Anda sejak lahir dan berkesinambungan sehingga Anda punya ‘brand’ sebagai ‘Ibu Anu’ atau “Bapak Fulan”.

Yang kedua, suara pemanggil tadi telah lama terekam dalam otak Anda. Ia telah meninggalkan ‘bekas’ di salah satu ‘chips’ server otak yang menyimpan ‘memory’.

Tergantung apakah chips-nya masih utuh (tidak pernah rusak atau kemasukan virus), dan tergantung berapa besar kapasitas ‘memory’-nya: maka ingatan Anda akan sesuatu bisa naik bisa turun.

Bahkan saat baru saja ‘melek’ dari tidur, ketika pikiran belum ‘alert’ benar, Anda langsung tergugah oleh suara lembut kekasih di samping, sebab telah mengenali kemesraan dan kasih sayangnya selama bertahun-tahun.

Ibarat komputer — ketika hardware chips penyimpan memory kini sudah makin canggih — akal (abstrak) atau otak (biologis) kita pun bisa ditingkatkan kapasitasnya.

Latihan dapat meningkatkan itu semua. Sopir bus Jakarta-Puncak-Bandung, misalnya, secara mudah tahu kapan harus tancap gas dan kapan mesti mengerem dan berbelok di liak-liuknya jalanan wilayah Cipayung menuju Cianjur, tahu kapan menanjak bukit dan bila mana menuruni ngarai sambil menghindari jurang yang menganga. ‘Bekas’ perjalanan bertahun-tahun di kepalanya ikut mengontrol kakinya ketika menginjak pedal rem atau menggenjot gas.

Ia punya memori yang ‘merasuk’ ke seluruh tubuh — dan ‘jiwa’-nya.

Yang kedua itu, ‘jiwa’ maksud saya, tidak mudah ditenggarai, karena ia abstrak, absurd. Dalam bahasa bernada filosofis, mungkin jiwa itulah yang sering disamakan dengan ‘akal’, ruh, atau mind dan ‘spirit’.

Tetapi itu sebuah persoalan yang rumit. Kiranya lebih mudah melihat peran ‘bekas’ dari pendekatan komunikasi.

Pasalnya, bekas menjadi salah satu dasar orang memasarkan produk dan jasanya. Dalam dunia marketing, bekas yang menancap di benak konsumen itu menjadi ‘brand’. Ia dipengaruhi banyak hal, utamanya pengalaman audience, tapi juga oleh pengetahuan, latar belakang pendidikan, background sosial, dan sebagainya.

Dalam jangka panjang, khususnya dilihat dari kacamata Public Relations (PR), ia dinamai ‘reputasi’. Makin dalam tertanam ‘bekas’itu dalam benak audiens, makin tinggi reputasinya, dan makin setialah sang audiens.

Karena brand atau reputasi yang bagus, Kraft dibeli dengan nilai $ 12 milyar sedangkan Nabisco bernilai lebih dari $ 25 milyar. Yang membuat suatu brand bisa berharga tinggi adalah adanya semacam jaminan brand yang meningkatkan sense of value bagi konsumen, sehingga memberikan nilai tambah untuk menjadikan produk atau jasa (yang dijual) sebagai pilihan utama.

Akibatnya, konsumen bersedia membayar lebih. Dengan kata lain, konsumen tidak lagi ‘price sensitive’; dan inilah yang membuat brand memiliki nilai yang bisa diterjemahkan ke dalam rupiah.

Reputasi – menjadi bahan Word of Mouth yang dibicarakan audience (konsumen): nama baik.

Tidak hanya itu. Berkat persepsi pada sebuah brand yang dinilai tinggi – antara lain karena ia punya ekuitas tangible dan nilai intrinsic yang secara konsisten dianggap lebih tinggi ketimbang merek pesaingnya — maka sang brand tadi bisa merebut loyalitas konsumen.

Akibatnya, konsumen akan menjadi pelanggan, atau bahkan menjadi ‘brand ambassador’ yang mengundang atau memberi rekomendasi pada orang lain untuk ikut membeli produk brand itu.

Demikian pula halnya bagi sebuah organisasi. Bila hendak menciptakan sejarah yang baik, bila ingin punya reputasi, atau bekas positif di benak audience, maka organisasi itu mesti memiliki tenaga PR yang benar-benar berfungsi sebagai jembatan yang kokoh. Yakni jembatan yang menghubungkan antara organisasi dan audience-nya – yang mesti dibangun secara benar dan baik, tanpa mark-up atau korupsi.

Manajemen puncak di sebuah organisasi juga harus melapangkan arus komunikasi mengalir di atas jembatan PR secara timbal-balik, dua arah. Bila tidak demikian, bukan saja pihak audience yang akan dirugikan, melainkan organisasi itu sendiri bakalan menanggung rugi.

Bukan saja karena ambruknya si jembatan, melainkan – yang lebih parah dari itu — rubuhnya nama baik organisasi. Saat itu, jembatan menjadi bekas rongsokan belaka. Organisasi pun masuk museum.

Bahkan dari sisi agama, ‘bekas’ juga menjadi perhatian utama, yakni ‘sejarah’ perbuatan kita di dunia. Kata Tuhan dalam kitab-Nya: Maka barang siapa beramal baik meski sekecil atom pun akan menikmatinya; dan siapa saja yang berbuat kejelekan sekecil debu pun akan melihatnya…

Advertisements
 

2 responses to “‘Bekas’ – Mengapa Memory Terekam di Otak?

  1. -Jeany Chen- 이준나

    09/12/2011 at 5:40 pm

    Melihat kata “Bekas”, saya sebagai pembaca juga punya asumsi lain terhadap kejadian ini. Menurut saya, seringkali tragedi yang terjadi di Indonesia bukanlah sekedar kecelakaan belaka. Banyak fakta yang menunjukkan suatu peristiwa dapat terjadi karena kegagalan dalam pemeliharaan sarana dan pra sarana yang ada. Faktanya, Indonesia sering menggunakan barang bekas dan mendaur ulang kembali menjadi barang baru yang seolah tampak “murah dan bermanfaat”. Sebagai buktinya, kita lihat saja “bemo”. Sebuah fakta yang membuat orang asing akan tercengang. Besi dan mesin tua masih dapat berfungsi. Ada sisi positifnya, memang. Namun masalah baru pun datang ketika kita tidak menyadari seberapa lama barang tersebut akan bertahan dan berjalan dengan baik? Saya rasa dari kasus jembatan di Tengarong yang runtuh ini kita belajar fakta “bekas” lainnya..(yang mungkin datang dari kurangnya pemeliharaan dan pergantian kepada bagian-bagian jembatan yang telah “lama dan usang” untuk diganti menjadi yang baru dan lebih kuat). Sampai saat ini saya berharap agar pihak yang bertanggung jawab dapat mempelajari sisi lain dari kejadian ini. Pikirkan baik-baik, jembatan yang bekas rubuh ini apakah masih akan banyak dilewati orang di kemudian hari? Tantangan bagi PR nya adalah bagaimana memberikan jaminan bahwa tragedi ini tidak terulang kembali. Jangan jadikan peristiwa ini sebagai sebuah hal sepele.

     
    • Syafiq Basri

      10/12/2011 at 8:26 am

      Sdri Jeany,
      Terima kasih atas tanggapan Anda. Tulisan Jeany itu menambah wawasan pembaca. Anda benar, sebuah ‘bekas’ –atau sejarah — yang disiapkan secara baik dan demi tujuan mulia akan membawa kenangan indah. Sebaliknya, perbuatan buruk — seperti korupsi pada pembangunan sebuah jembatan, misalnya — bakal meninggalkan kenangan buram, cercaan dan dosa. Anak cucu pun akan melihat sejarah hitam sang koruptor. Dan itu memalukan bagi keluarganya. Bagi bangsanya.

      Tabik,
      Syafiq.

       

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: