RSS

Indonesia Vs Malaysia: Bukan Hanya Bola

27 Nov

Kekalahan tim Garuda dari Malaysia pada SEA Games ke-26 (tahun 2011) yang lalu mengingatkan kita pada berbagai persaingan antara Indonesia dan Negeri Jiran itu.

Belum lama berselang, masih hangat dalam ingatan kita, muncul isu soal bergesernya garis batas negara kita di Kalimantan. Kemudian juga masalah TKI, dan kasus Sipadan dan Ligitan tempo hari.

Old Market Square (Medan Pasar) in central Kua...

Medan Pasar di pusat kota Kuala Lumpur, Malaysia. (Photo credit: Wikipedia)

Bukan hanya itu. Lomba antar-tetangga itu berada dalam berbagai sektor. Dalam urusan seni dan budaya harus diakui Indonesia unggul, sehingga kita sewot saat Malaysia mengklaim hak cipta hasil karya orang Indonesia. Namun di bidang kesehatan, pariwisata dan pendidikan, jiran yang satu ini jauh meninggalkan kita. Mari kita jenguk.

Tulisan ini aslinya ditayangkan media online, Inilah.Com 26 November 2011

Dalam bidang pendidikan, harus diakui sejak lama banyak orang Malaysia belajar di Indonesia. Hingga kini pun mahasiswa Malaysia mendominasi jumlah mahasiswa asing di Indonesia, yang jumlahnya mencapai 6000-an orang.

Lazimnya mengambil mata kuliah di bidang kedokteran, farmasi, agama Islam dan teknik, di antara perguruan tinggi yang banyak disasar mahasiswa asing itu adalah UI, IPB, ITB, Universitas Padjajaran, UIN Syarif Hidayatullah, dan ITS Sepuluh November.

Namun jumlah itu jauh di bawah angka mahasiswa Indonesia di Malaysia, yang hingga tahun 2010 lalu diperkirakan mencapai 9800-an, nomor dua terbanyak setelah mahasiswa asal Iran.

Data yang ada menunjukkan hingga 2007 saja, sekurang-kurangnya ada 45 ribu mahasiswa asing di Malaysia, hampir dua kali lipat dari jumlah pada tahun 2002 (sekitar 27 ribu). Bukan mustahil jumlahnya kini mendekati 80 ribuan.

Maka tidak heran bila saat ini berbagai universitas besar dan kecil dipadati muda-mudi dari berbagai negara di dunia – utamanya dari dunia ketiga. Sebutlah umpamanya Multimedia University (MMU), yang mulai beroperasi sekitar 12 tahun lalu.

Kini perguruan tinggi swasta pertama di Malaysia — yang dibangun oleh mantan Perdana Menteri Mahathir Mohammad — itu telah memiliki lebih dari 20 ribu mahasiswa , sekitar 4200-an di antaranya adalah mahasiswa asing dari 70-an negara seperti Iran, Indonesia, Arab Saudi, Kazakhstan, Sudan, China dan Thailand.

Di bidang kesehatan pun Malaysia juga piawai, mengikuti Thailand dan Singapura. Hingga tahun 2005 lalu jumlah pasien asing yang berobat ke Malaysia mencapai 400 ribuan orang.

Map malaysia kuala lumpur

Peta Kuala Lumpur

Menurut data tahun 2007, sekitar 72% pasien asing di Malaysia berasal dari Indonesia. Diperkirakan tahun 2010lalu Malaysia menangguk tidak kurang dari RM 2 miliar (sekitar Rp.5,6 triliun) dari pasien asing yang berobat ke sana.

Bila angka itu benar, dan jumlah pasien asing asal Indonesia tetap di angka 70 prosen, maka artinya tahun lalu kita menyumbang sekitar Rp.3,9 triliun kepada sejumlah Rumah Sakit di Malaysia.

Brand dan promosi

Mengapa Malaysia begitu maju dalam bidang pendidikan dan wisata kesehatan? Faktor bahasa Inggris, kata sebagian orang. Baiklah, memang bahasa Inggris menjadi bahasa kedua di sana, sehingga penting artinya dalam bidang pendidikan.

Tapi dari sisi kedokteran dan kesehatan, bukankah dokter kita tidak kalah pandai dari dokter Malaysia? Sementara mahasiswa Malaysia masih banyak yang belajar di sini.

Rupanya di antara penyebab utama adalah karena lembaga pemerintahan dan swasta Malaysia gencar berpromosi ke seluruh dunia. Selain itu, mereka secara serius memanfaatkan Internet efektif sehingga seolah ada satu Malaysian.Inc yang sangat kompak.

Scenery around KLCC park at night

Pemandangan malam hari di Pusat Kota Kuala Lumpur (KLCC).

Tidak sia-sia usaha promosi ke dunia yang mereka lakukan selama ini. Bahkan sudah sejak 1990 Mahathir Muhammad meluncurkan Visi Malaysia 2020, yang bertujuan menjadikannya negara industri yang mandiri (self-sufficient industrialized nation). Di antara hasilnya, GDP perkapita Malaysia pada 2006 berhasil mencapai $12.155, jauh di atas Indonesia ($ 4.251).

Promosi melalui Internet juga sangat diandalkan. Berbagai universitas Malaysia, misalnya, mengembangkan situs universitymalaysia.net yang memberikan informasi mengenai apa dan bagaimana negeri dengan 13 negara bagian (federal) dan penduduk 28,5 juta itu, menampung sejumlah besar mahasiswa asing dari 100-an negara.

Sebaliknya, Indonesia masih tertinggal. Cobalah cari ’international students in Indonesia’ di Google, maka yang Anda peroleh justru lebih banyak promosi berbagai perguruan tinggi di luar negeri yang hendak menarik mahasiswa kita ke sana.

Dalam upaya promosi bagi pendatang, turis, investor dan expatriate, Malaysia juga melangkah beberapa tahap di depan kita. Cobalah berjalan-jalan di sekitar Bukit Bintang di Kuala Lumpur. Dari ujung ke ujung Anda akan mendapati ratusan turis asing, utamanya dari Timur Tengah.

Pemerintah kota juga menyulap suasana di tengah Kuala Lumpur sehingga menjadi seolah ‘Timur Tengah Kecil’.

Lalu perhatikan situs Alloexpat ini.  Sekali masuk laman itu, seseorang yang ‘asing’ dengan negeri itu secara mudah akan bisa mengeksplorasi apa pun yang dia ingin ketahui.

Situs itu juga memberi tautan kepada ‘Layanan Imigrasi Malaysia’ – suatu hal yang paling mendasar bagi seseorang yang hendak merantau atau berlibur ke Negara lain.

Lewat situs seperti itu juga, seorang ekspatriat bisa mendapat informasi seperti restoran, hotel dan perumahan, guide belanja, sekolah, olahraga, jasa relokasi, jasa keuangan, informasi kesehatan, dan rekreasi.

Promosi atau iklan yang gencar dan dikelola secara strategis dan terintegrasi menjadikan brand atau reputasi Malaysia di dunia terus meningkat. Boleh jadi, bahasa menjadi salah satu alasan orang kuliah di luar negeri.

Tapi reputasi negara itu juga amat berperan.Brand sebuah negeri itulah misalnya yang menyebabkan orangtua suka mengirim anaknya tidak saja berkuliah ke negara berbahasa Inggris seperti AS atau Australia, melainkan juga ke Jerman, Prancis atau Jepang – yang tidak berbahasa Inggris.

Negara-negara itu punya brand yang tertanam di benak audience di seluruh dunia. Itu pula sebabnya Thailand ramai dikunjungi turis dan pasien dari manca negara yang hendak berobat.

Sejatinya memang kita bisa menggunakan branding sebagai alat untuk menemukan, mendesain, dan mengkreasikan berbagai produk dan jasa; juga, sampai batas tertentu, bagi ’sebuah negara’. Lewat branding itulah sebuah negara dapat mempertajam dan memengaruhi audiensnya di tingkat global.

Halal Travel - Indonesia vs Malaysia: branding menentukan

Halal Travel – Indonesia vs Malaysia: branding menentukan

Ia dapat memperkuat persepsi audiens karena branding di dalam hati (benak) adalah mengenai penciptaan koneksi-koneksi dan asosiasi dengan orang dan berbagai benda. Ia menyebabkan orang pergi ke dunia lain, untuk menemukan sesuatu yang baru, dan pada gilirannya juga menjadi ’ditemukan’. Ia adalah sebuah perjalanan terus menerus.

Salah satu kebenaran emosional yang tersembunyi di belakang kekayaan dan dampak branding adalah bahwa orang ingin menjadi bagian dari ’sesuatu yang lebih besar’ dari dirinya.

Kita, misalnya, ingin bergabung dengan mendiang Steve Jobs, dan kita melakukannya dengan membeli produk Apple.

Demikian pula, kita ingin bergabung dengan negara yang dalam benak kita dipotret sebagai ’maju’ seperti Jepang dan Inggris, sehingga membeli produk mereka, mengirim anak sekolah atau berobat di sana. Ringkasnya, kita ingin masuk dalam bagian brand-brand itu.

Lewat strategi marketing dan PR modern, Malaysia berhasil menciptakan keinginan (desire), menjanjikan mimpi-mimpi dan identitas yang diharapkan audience global. Mereka tahu, reputasi yang dibangun dan diakselerasikan melalui promosi akan menjadikan audiens merasa senang, ’muda kembali’, segar, maju dan progresif.

Baca juga: 

Advertisements
 

Tags: , , , ,

7 responses to “Indonesia Vs Malaysia: Bukan Hanya Bola

  1. Siska

    24/06/2012 at 4:08 pm

    Setuju dengan point bagaimana promosi pendidikan, pariwisata, pelayanan kesehatan, yang dilakukan Malaysia sangat baik sehingga dapat menarik minat berbagai orang dari belahan dunia untuk datang terutama dari Indonesia.

    promosi memang memegang peran sangat penting dalam hal ini. Saya suka miris melihat bagaimana masyarakat Indonesia lebih memilih untuk jauh-jauh dan mahal-mahal ke luar negeri, padahal sudah memiliki hal yang serupa, bahkan mungkin jauh lebih baik di sini. mungkin karena Indonesia, kurang bangga mempromosikan miliknya.

    pepatah lama, rumput tetangga selalu terlihat lebih hijau, nampaknya cocok disebutkan untuk Indonesia. lebih banyak melihat kelebihan orang lain, dan tidak melihat kelebihan diri sendiri..

    rendah hati atau rendah diri..mungkin kita yang harus menjawab.

     
    • Syafiq Basri

      24/06/2012 at 4:34 pm

      Terima kasih, Siska. Anda benar, kadang kita lebih suka melihat kelebihan orang lain (Malaysia), padahal banyak sekali keistimewaan bangsa sendiri yang jauh lebih hebat. Dokter-dokter kita pun rata-rata pintar-pintar dan jago, sehingga banyak mahasiswa Malaysia belajar di beberapa fakultas kedokteran di Indonesia. Tetapi, dari riset yang ada, tampaknya soal komunikasi (dan service) yang ‘bagus’ menjadikan banyak orang lebih suka berobat ke negeri jiran itu.

       
      • Siska

        24/06/2012 at 5:01 pm

        Nah, itu juga yang jadi masalah kita selain suka melihat kelebihan orang lain. Tidak maksimal dalam melakukan sesuatu, asal jadi, asal selesai, asal dibayar. Karakter seperti ini yang harus diubah.

         
  2. -Jeany Chen- 이준나

    11/06/2012 at 2:39 pm

    Sadarkah kita bahwa “Promosi Pendidikan” dalam negara kita seringkali serba tanggung dan terkesan “nggak pede”? Sebenarnya masalah tidak hanya datang karena banyak pelajar berprestasi di Indonesia yang justru lebih memilih menimba ilmu di Malaysia dibandingkan di negeri sendiri. Masalah juga datang dari “Kualitas dan Jaminan Masa Depan” setiap sekolah atau universitas di Indonesia yang sering “meragukan”. Promosi mereka lebih sering hanya pada sistem pendidikan yang diterapkan saja. Kita tidak perlu jauh-jauh sampai kepada tenaga guru atau dosen profesional yang disediakan atau kurikulum berbasis internasional yang sering ditawarkan, sebenarnya kita cukup hanya melihat dari teknologi dan fasilitas yang dimiliki oleh sekolah atau universitas kita. Bagaimana mau “betah” menimba ilmu di negara kita jika hanya sebatas sisi akademik yang ditingkatkan, sementara fasilitas semakin buruk. Gedung tua sering kali tetap dipertahankan “kebobrokan dan keusangannya”, fasilitas seperti komputer “jadul”, perpustakaan “ala kadarnya atau bahkan asal nyempil”, AC atau kipas angin” yang sudah rusak dan tidak diperbaiki lagi”, toilet yang “fasilitasnya tidak modern” dan “kotor” dan lain-lain yang terkesan serba “tanggung”, “tidak terawat” dan “nyaris tidak dipedulikan” oleh pihak yang berwenang. Saya yakin, kita akan banyak sekali menemukan kondisi demikian di Indonesia. Coba kalau kita menengok ke negara tetangga, Malaysia dan Singapura. Bukan cuma masalah “akreditasi” atau “level pendidikan” yang ditawarkan, tetapi masalah lingkungan, tingkat keamanan negara, bahkan ketertiban masyarakatnya yang masih sangat jauh jika dibandingkan sama Indonesia. Di negara kita, jangankan “aman”, ketertiban masyarakat saja sulit dibudayakan. Di Malaysia, mereka punya mini train, sementara di Singapore, mereka menyediakan “MRT”. Mau ke kampus atau ke sekolah, lebih mudah. Semua lebih cepat dan orang bisa dengan nyamannya berjalan kaki kemana saja dengan rasa jauh lebih aman dari pada di negara sendiri. Jaman sekarang ini, orang yang ingin berpendidikan tinggi sudah tidak hanya mempedulikan soal “biaya” lagi.. karena lumrah rasanya jika kita perlu membayar jauh lebih mahal demi mendapatkan pendidikan. Ilmu memang sesuatu yang mahal. Promosi perlu dilakukan, namun perubahan dan pengembangan dalam hal-hal kecil tersebut seharusnya terlebih dulu dipikirkan. Disini, saya lebih berbicara mengenai pendidikan untuk rakyat menengah ke atas, yang memang punya uang untuk memilih ke negara lain demi sesuatu yang dianggap jauh “lebih baik, praktis, profesional, modern dan canggih”. Jauh lebih mahal, ya sudah tentu. Tapi mereka juga menawarkan jangka waktu yang lebih singkat untuk lulus dibandingkan di negara kita yang rata-rata perlu 4 tahun untuk kuliah. Beasiswa yang mereka tawarkan juga “bukan main hebatnya”. Jadi kepada negara kita, Indonesia… saya rasa… kita tidak hanya butuh pengembangan dalam “promosi” saja, melainkan perubahan dalam menciptakan lingkungan yang lebih berkualitas, maju dan terawat.

     
  3. jual sepatu

    19/04/2012 at 9:25 pm

    malaysia bener2 bagus, kapan kita bisa seperti malaysia..?

     
    • wahid abdur rokhim

      04/09/2012 at 8:53 am

      kenapa seperti malaysia????????indonesia masih jauh lebih baik

       
      • Syafiq Basri

        05/09/2012 at 12:41 am

        Dalam segi tertentu harus diakui Malaysia pintar. Misalnya, mereka pandai menjaring turis dari mancanegara ketimbang Indonesia, yang negaranya jauh lebih besar dan lebih cantik dibanding banyak negara lain.

         

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: