Saat hampir 60 % rakyat AS tidak percaya pada media, WikiLeaks memberi pilihan bagi jurnalisme baru sebagai kantor berita tanpa negara.
Benarkah WikiLeaks membuka kembali pintu jurnalisme yang sebenarnya? Sebagian penguasa di dunia menganggap bahwa WikiLeaks hanya pemulung informasi sampah atau ‘warung kopi’. Pemerintah Amerika Serikat (AS), yang kawat diplomatiknya sering dibocorkan WikiLeaks, termasuk yang sering gerah.
Barangkali di antara pengungkapan dokumen yang paling bikin kesal pemerintah AS adalah ketika pada Juli 2010 WikiLeaks membocorkan 91.731 kawat — selama periode tahun 2004 hingga 2009 — mengenai perang di Afghanistan, dan menyampaikannya pada tiga media kelas dunia, The New York Times (AS), The Guardian (Inggris), dan Der Spiegel (Jerman). “Itulah salah satu kebocoran terbesar dalam sejarah militer AS,” tulis Columbia Journalism Review.
Di bawah ini adalah tulisan saya (Syafiq Basri Assegaff), berjudul “Jurnalisme Baru Wikileaks”, yang dimuat di Koran Tempo, Sabtu 16 April 2011; halaman A8
Banyak yang memuji WikiLeaks, situs penyebar rahasia yang resmi berdiri pada 2007, sebagai “jurnalis yang sebenarnya”. Awal Maret lalu, situs lembaga jurnalisme independen Consortiumnews menurunkan artikel dengan judul “WikiLeaks Mempermalukan Media Gaya Lama”. Kevin Zeese, penulisnya, menempatkan Assange di garis depan gerakan mendemokrasikan jurnalisme dan membangun kekuatan rakyat.
Sebagian lainnya malah menganggap yang dilakukan Assange sesungguhnya adalah semacam “jurnalisme investigatif”, sebuah kegiatan penyelidikan oleh wartawan untuk mengungkap rahasia sumber berita.